Bedah Buku Saya Muslim Sunni Syafi’i Karya KH Abdullah Bin Nuh: Menggali Teladan Ulama Besar Bogor - Dinamika News
News Update
Loading...

8/31/25

Bedah Buku Saya Muslim Sunni Syafi’i Karya KH Abdullah Bin Nuh: Menggali Teladan Ulama Besar Bogor

BOGOR, dinamikanews.id – Majlis Yayasan Islamic Center Al-Ghazaly (YIC) Kota Bogor menggelar kegiatan Bedah Buku berjudul "Saya Muslim Sunni Syafi'i" karya ulama kharismatik KH Abdullah Bin Nuh, pada Sabtu (30/8/2025). Acara ini berlangsung di YIC Al-Ghazali, Jalan Cempaka 06, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

KH Abdullah Bin Nuh lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 30 Juni 1905. Beliau dikenal sebagai ulama besar sekaligus pendiri Pesantren Al-Ghazaly Bogor. Ayahnya, Raden H. Mohammad Nuh bin Idris, dan ibunya, Nyi Raden Aisyah binti Raden Sumintapura, berasal dari keluarga terpandang. Bahkan kakeknya dari pihak ibu pernah menjabat sebagai wedana di Tasikmalaya.

Ketua ICMI Orda Kota Bogor, Dr. Arief Rachman Badrudin, MM., dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya menggali nilai-nilai keteladanan yang diwariskan KH Abdullah Bin Nuh melalui karya-karyanya.

"Dalam buku ini, kita bisa mencatat tiga hal penting. Pertama, di bidang pendidikan beliau menekankan hubungan harmonis antara guru dan murid seperti orang tua dan anak, sebagaimana diajarkan Imam Ghazali. Kedua, di bidang keagamaan, beliau ulama mumpuni yang menghasilkan karya-karya ilmiah Islam diakui dunia. Ketiga, beliau juga seorang pejuang yang ikut mengangkat senjata. Jadi, sosok beliau benar-benar menjadi teladan bagi kita semua," jelas Arief.

Arief juga berharap generasi muda semakin mengenal dan mencintai ulama Bogor, khususnya KH Abdullah Bin Nuh. Ia menilai, sudah saatnya nama besar beliau diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.

"Dari kriteria yang ada, KH Abdullah Bin Nuh layak menjadi Pahlawan Nasional. Namanya sudah diabadikan sebagai nama jalan di Kota Bogor, beliau mendirikan Perguruan Al-Ghazaly, serta karya tulisnya seperti Ana Muslim Sunni Syafi'i digunakan di Universitas Al-Azhar Kairo. Semua ini menjadi bukti nyata pengakuan dunia terhadap beliau," tegasnya.

Lebih jauh, Arief mendorong agar kegiatan semacam ini rutin dilaksanakan. Ia juga mengusulkan penerbitan biografi dan karya-karya pemikiran KH Abdullah Bin Nuh dalam berbagai perspektif.

"Beliau ini ulama multitalenta, menguasai tafsir, fikih, bahasa Arab, bahkan bahasa internasional seperti Inggris dan Prancis. Namun yang luar biasa, beliau tidak meninggalkan bahasa Sunda dan menulis beberapa karya dengan bahasa daerah tersebut. Sosok seperti ini harus terus dikenalkan ke generasi muda," pungkasnya. (Is)

Share with your friends

Give us your opinion
Notification
Aktifkan loncengnya jika ingin update artikel di web ini.
Done